Rabu, 16 Februari 2011

Berteriak

Jika nanti,
aku pergi,
untuk menerjang nyala api,
menampar mereka yang berteriak,
seolah bisa membual sampai melotot
Persetan dirinya!
Cuma orang sinting yang bicara,

Biar kuusap bara neraka,
akan terasa dalam rentaan terpaksa,
menyiksa yang biadab
Dasar orang gila

Berani benar mengumpat sendiri?
muntahkan segala disini
dan aku pusing terbentur jendela malam

Rumah Duka

Disini, yang tertunduk
Mengais duka yang terkubur,
sekujurnya putih lunglai,
hilang ditengah telaga yang suram

Telah menderu angin yang besar,
meruntuhkan sisanya dendam

Dalam rumah duka,
aku berdoa,
untuk dia rasakan karma

Memang kau telah terbang,
ke langit yang bertabur bintang,
kau berjalan, mengambil bintang perlahan,
menghapusnya dari tidur panjangku

Sebuah Pistol

Ku rapatkan segumpal hatiku,
yang terlepas memeluk semesta
Aku tenggelam, dalam serdadu rembulan
Aku menangis tenggelam di hujan yang syahdu

Apa arti kehadiranmu?
menebar kepalsuan dalam sebuah pilu?
menceburkan kepala dingin ke minyak panas?

Yang berdiri disana,
tertunduk disini
Yang bercinta disana,
menangis disini
Telah dibuang semangat yang riang,
mendesing keras di bangku belakang

Aku adalah Pistol,
memuntahkan deruan peluru,
tuk menghujam bahu yang terdiam,
akan meronta panasnya darah,
menguak, hingga hampir terlelap

Pulang

Tersengal, aku terus berlari
Berlari, sampai hilang pedih di hati
Mengejar suatu titik tak bertumpu,
dibayangi puing asmara yang kosong

Aku terduduk disini,
menunggu kemenangan yang berarti
Walau terik membakar,
disini akan selalu menunggu

Berdiam di tempat yang asing,
diteriaki dan dimaki
Rindu pada hal yang dinanti,
sehangat angin sore ini

Aku ingin pulang,
memberontak pada kepalsuan,
menginjak bendera tirani,
membawa merdeka kepangkuan Ibu Pertiwi

Sekuntum Cinta

Mencumbu dinginnya malam,
rembulan tak kunjung datang
Bintang pun tak mungkin bersinar
Redup tanpa hadirmu di sisiku

Sayup-sayup burung kecil,
menghilang dirampas malam
Di renggut dinginnya hujan,
tanpa sekuntum cintamu

Bekulah waktu dalam tanganmu,
meruaklah kabut di kaki gunung,
meriaklah air tepian muara,
merindukan kasihmu yang berdiam disana

Ambil jantung ini sebagai pemompa cintamu,
ambil nadi ini akan mengalirnya cintaku untukmu,
sesak tanpa senyummu,
dikala alam t'lah beradu

Perlu kamu ketahui,
puisiku penuh palsu dan duka
Membuat diriku, tergila akan luapan cintamu

Mengenang Tanpa Harapan

Dikala petang menjelang,
riuh rendah orang bergemuruh
Dan aku hanya terpaku termangu
Seutas makna yang bisa kuikat
Hanya menyelimuti hati yang temaram

Sampai semua berlalu
Ringan, terhempas hangatnya angin sore
Terbang terombang harapan
Menembus asa dan pikiran,
yang hilang dalam logikanya cinta

Terlalu sulit mnegatakannya
Membuat angin diam sejenak,
mencoba jantung terhendat sekejap
Digumpal rasa bimbang yang terus berpacu

Kau panggil rembulan, kau jamah semua bintang
Dan biarkan aku bersaksi dihadapannya,
tuk selalu bersama meski hampir mustahil
Dalam genggam tanganmu yang berbisik kecil,
tentang sepasang kekasih yang takkan terhapus waktu,
sekejap saja.